The Legend of Dwi Koen’s Masterpiece

Oukay.

Pertama-tama, mari gua kenalkan seorang tokoh komik legendaris koran Kompas: Panji Koming. Komik strip yang selalu mengkritik pemerintah Indonesia. Pengarangnya? Dia adalah bapak Dwi Koendoro Br…. Seorang kakek-kakek. Kakek-kakek  jenius kelahiran 13 Mei 1941 ini adalah kakek biasa. Orang, sama kayak kita. Bedanya, dia udah tua. Tapi pinter. Dan jenius. Juga keren. Cool. Super. Super mario teguh. Dan juga edan… Sangat edan.

Kira-kira tahun 1998-an, dia membuat komik serial, yang sayangnya hanya terbit cuma sebanyak dua edisi.  Judulnya adalah Sawung Kampret. Sawung Kampret adalah tokoh rekaan beliau yang dibuat sudah lama, tapi baru dikenal sejak terbitnya dua komik ini. Berikut ringkasan ceritanya (kalo mau di-skip bacanya, boleh) :

(~’_’)~     ~(‘_’~)

Legenda Sawungkampret bercerita tentang seorang anak lelaki bernama Sawungkampret yang hidup bersama kedua orangtuanya di Ujunggaluh (sekarang Surabaya), Jawa Timur. Kehidupan yang keras membuat kedua orangtuanya mati di tangan penjahat. Sebelum mati, ayahnya berpesan supaya Sawung pergi berguru kepada pendekar silat bernama Badakngajentul yang tinggal di Cibadak. Maka Sawung-pun pergi melakukan perjalanan panjang dari Jawa Timur ke Jawa Barat hanya dengan berbekal keberanian.

Sesampainya di Cibadak, Sawung diterima dengan hangat oleh Badakngajentul. Ia diperkenalkan pada teman seperguruan bernama Na’ip, yatim piatu yang berasal dari Sundakalapa. Selama beberapa tahun, Sawung dan Na’ip berguru silat di Cibadak, namun keduanya selalu bertengkar dan digambarkan tidak pernah akur dalam hal apapun. Jika ada mereka berdua, pasti ada masalah. Suatu hari, mereka berdua terluka cukup parah karena latihan. Badakngajentul lalu menyuruh mereka pergi berobat pada tabib Cina kenalannya bernama Tan Ping San yang tinggal di Sundakalapa. Di Sundakalapa, Sawung dan Na’ip mendapati toko obat Cina yang dimaksud rupanya tengah dijarah oleh penjahat. Dengan ilmu silat hasil didikan Badakngajentul, merekapun berhasil menaklukkan penjahat-penjahat itu. Singkat cerita, mereka diterima dengan baik dan mulai tinggal di Sundakalapa.

Badakngajentul memberikan pengasuhan Sawung dan Na’ip kepada Doktor Van Klompen, yaitu kawan baik Tan Ping San. Van Klompen adalah seorang ilmuwan asal Belanda yang menentang penjajahan VOC di tanah Nusantara. Sawung dan Na’ip diajari berbagai macam hal oleh pengasuh barunya. Mereka diajari bahasa asing, ilmu pengetahuan alam, filsafat, cara bercocok tanam, bahkan cara menabung dalam celengan. Van Klompen juga mengenalkan mereka berdua dengan situs-situs bersejarah seperti Prasasti Tugu, yaitu prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara.

Suatu hari, Doktor Van Klompen harus pergi meninggalkan Nusantara untuk penelitian ke benua Amerika. Perpisahan dengan Van Klompen mengubah hidup Sawung dan Na’ip. Mereka yang biasanya bertengkar, kemudian menjadi akrab. Mereka juga semakin giat belajar dan mendalami berbagai macam bidang ilmu. Kreatifitas keduanyapun terasah, bahkan mereka dapat menemukan alat-alat yang sebenarnya umum dimainkan di zaman modern seperti skateboard atau olahraga bungee jumping. Tujuh tahun berlalu semenjak kepergian Van Klompen, Sawung dan Na’ip tumbuh menjadi pemuda yang cakap sekaligus konyol. Mereka disegani di Rawabelong karena membela rakyat dari kesewenang-wenangan serdadu VOC dan penjahat lokal.

Alkisah, J.P. Coen sebagai gubernur-jendral VOC, ingin memperluas kota yang kelak dinamainya Batavia. Demi perluasan wilayah ini, beberapa daerah akan digusur termasuk situs bersejarah Prasasti Tugu peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Mendengar berita penggusuran situs peninggalan leluhur kaum pribumi ini, para pendekar tak tinggal diam. Mereka membela mati-matian sampai serdadu VOC dibuat kewalahan. Demi kelancaran perluasan, J.P. Coen mengutus Meneer Marutoklopo untuk memecah belah para pendekar. Rencana licik Marutoklopo adalah dengan mengalihkan perhatian pada pertarungan Gladiator melawan pendekar bayaran VOC, sehingga kekuatan pendekar di Prasasti Tugu akan berkurang. Rencana ini berhasil. Ketika sebagian pendekar bertarung di arena Gladiator, Prasasti Tugu dihancurkan bersama sisa-sisa pendekar yang tinggal di sana. Dalam penggusuran ini, muncul Doktor Van Klompen yang baru datang dari Amerika, dan ia turut menjadi korban karena membela situs bersejarah itu.

Mendengar kakek angkat mereka (Van Klompen) baru datang dan sudah terluka parah akibat serdadu VOC, Sawung dan Na’ip pergi ke arena Gladiator untuk membalas dendam. Di arena, mereka membuat kekacauan dengan menghajar semua serdadu yang berpartisipasi menghancurkan prasasti, berikut para pendekar bayaran VOC dan penonton dari kalangan petinggi VOC. Pada pertarungan itu, semua orang pribumi yang datang, baik itu penonton maupun peserta Gladiator, turun untuk melampiaskan kebenciannya pada VOC. Bisa dibilang, tindakan Sawung dan Na’ip yang merangsek masuk ke arena adalah nyala api pergerakan perlawanan pribumi terhadap VOC.

~(‘_’~) (~’_’)~

 

*hoshhosh….* capek ngetiknya…..

Terus apa bagusnya komik ini??? Romannya? Cerita yang mengharukan? Humor-humornya? Hmmmm. Waktu SD, gua memang sangat suka sama komik ini.  Sayangnya, Legenda Sawung Kampret terbit pada waktu yang salah, yaitu ketika era RA. Kosasih atau Hans Jaladra telah berakhir. Ketika penggemar komik Indonesia era 1970 atau 1980-an sudah berubah jadi bapak-bapak. Komik Jepang benar-benar sudah menjadi raja industri komik Indonesia, dan mengakar di nadi setiap anak SD di era 1990-an. Inilah sebabnya Sawung Kampret hanya dinikmati oleh segelintir orang (mungkin 10ribu? 20ribu?) :p

Ada temen di forum IndoAnime.net yang pernah bilang begini ketika ngeliat gambar-gambar gua yang dipajang di sana: “…bisa jadi penerus om Dwi Koen, Sawung kampret nih, soalnya saya juga suka komik itu!!”. Dan gua kaget, walah ada juga yang tau Dwi Koen.

Gaya gambar beliau memang sangat khas Indonesia. Nggak kesuperhero-superheroan. Nggak kemanga-mangaan. Dan itu kelebihan komik ini. Humor-humornya cerdas, menyisipkan parodi tokoh-tokoh penting di Indonesia saat itu. Sebut saja Ade Rai, almarhum Gus Dur, Amien Rais, dll… -yah, biar sampai nerbitin buku komik, beliau masih saja bermain-main dengan politik 😀

Nggak hanya bermain dengan politik, Dwi Koen juga bermain-main sekaligus mengacaukan sejarah Nusantara. Tentang asal-usul nama Batavia, misalnya. Sungguh kacau.  Sosok JP. Coen yang dalam sejarah terkenal kejam juga malah keliatan culun di komik ini.

(sebenernya gua mau ngereview atau gimana sih??)

Ehem.

Pokoknya…. Kalian harus membaca komik ini. Agak sulit memang mencarinya. Tapi buat kalian yang tinggal di Jatinangor nggak perlu khawatir. Di perpustakaan Batoe Api ada kok. Walaupun kondisinya udah nggak 100% kayak waktu pertama dijual dulu.

At least, sebagai penggemar berat Sawung Kampret, gua rekomendasikan komik ini untuk dibaca… dengan rate 89/100.

Wajib! Wahai anak Indonesia!!!!

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “The Legend of Dwi Koen’s Masterpiece

    • Bagus lho mbak (eh, ini mitchan kan??)
      Aku blogroll lho. Awas! Pokonya mbak’e harus blogroll diriku jugak. Huehee

      Sempet-sempetin baca komik ini, coz’ sayang buat dilewatkan.
      Kalo nggak salah 4reen juga baca deh.
      Tuh kutipan di atas kan 4reen yang comment. 😀

  1. iya, ini mitchan..:)
    jadi malu :”>
    iya, sebenernya punyamu juga udah pernah aku blogroll, tp kemarin ak habis ngutak-ngatik settingan blog, terus blogroll-nya pada ilang :.<

    iya 4chan baca juga kok, kan aku ditawain sama dy 😀

  2. Saya pernah baca komik ini dulu pas masih di SMP, sekitar tahun 2001.
    Bacanya bahkan sampai berkal-kali.
    Suka banget sama karakter dan humor-humornya.

    Apalagi pas sawungkampret masih bayi terus dibalik badannya, kakinya yang dipegang terus di angkat sama bapaknya.

    Dan yang paling keren adalah kemampuan/jurus Si Na’ip yaitu bisa melorotin celana musuhnya dalam sekejap.
    Kocak banget dah. Hahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s